MANGROVE “BOA” DI PESISIR TIMUR ROTE: PENTING NAMUN TERANCAM

MANGROVE “BOA” DI PESISIR TIMUR ROTE:

PENTING NAMUN TERANCAM

Mangrove dikenal oleh masyarakat Rote dengan sebutan boa.  Hampir di setiap pesisir Rote, boa tumbuh dan menyebar.  Ada yang tumbuh beberapa pepohonan saja, namun ada di beberapa lokasi boa tumbuh sangat rapat dan mendominasi.  Seperti beberapa lokasi yang sudah penulis datangi antara lain wilayah pesisir barat  seperti  Pantai  Fimok   dan   pesisir   timur

Oleh:  Nur Aini*

  

seperti di Kecamatan Rote Timur dan Kecamatan Landuleko, memiliki boa yang tumbuh rapat dan mendominasi pesisir.

Kecamatan Rote Timur dan Kecamatan Landuleko yang terletak di pesisir pantai timur Pulau Rote berbatasan dengan Pelabuhan Ferry Pantai Baru. Selepas menempuh perjalanan roda dua dari Ba`a, suasana mangrove yang tidak kurang dari 14 ha di sekitar pelabuhan sangat terasa.  Kejernihan air laut di tepian pantai berbatu karang tiada membuat surut kaki untuk mencecahkannya. Pantai yang berlekuk indah membentuk teluk yang sangat sempurna untuk kondisi pelabuhan agar terhindar dari gempuran ombak dan kuat arus dari laut lepas.

Perjalanan ini dilanjutkan dengan perahu bermotor menuju pelabuhan mini di sisi timur teluk yang bernama Dolanamon. Kedatangan perahu disambut oleh lambaian mangrove yang lebat di kiri kanan pelabuhan mini tersebut.  Perjalanan belum berakhir karena desa tujuan harus ditempuh lagi menggunakan kendaraan roda dua selama 4-5 km di atas jalan bergelombang curam yang hanya dikeraskan seadaanya, entah berapa belas tahun yang lalu.  Dilanjutkan jalan setapak merentas belukar lebih kurang 1,5 km menuju objek yang akan dituju.

Menjelang puluhan meter kendaraan roda dua berhenti, pemandangan indah di atas pohon setinggi 6 m, mengembang sekeropak anggrek hutan berwarna merah muda dan putih.  Cukup recharge spirit untuk tetap semangat bisa sampai lokasi, karena bukan hal mudah menjaga spirit dengan fisik yang kelelahan.  Dan akhirnya tiba di lokasi yang dituju dengan rasa takjub bercampur miris.

Kondisi Mangrove di Bolatena    

Setiba di lokasi yang dituju, yakni areal mangrove di Desa Bolatena yang secara administratif terletak di Kecamatan Landuleko Kabupaten Rote Ndao, tidak langsung mendapati bibir pantai, melainkan dihadapkan pada kerusakan mangrove.   Lahan terbuka yang dahulunya adalah tanaman mangrove, kini bergelimpangan pohon mangrove yang kering dan mati, tunggul-tunggul tanaman serta ranting-ranting mangrove yang merangas sebagai bangkai tanaman mangrove. Kondisi ini mempelihatkan bukti bahwa di areal ini dahulunya merupakan hutan mangrove yang rindang.

Areal mangrove di Desa Bolatena ini, tersebar di tiga dusun masing-masing Dusun Karfao (5 ha), Dusun Loendolu (4 ha) dan Dusun Noordale (3 ha). Kerusakan mangrove terparah justeru Dusun Karfao dengan tingkat kerusakan 62 persen, diikuti oleh Dusun Leodolu 26 persen dan Dusun Nordale 25 persen.  Data lengkap dapat dilihat pada Gambar 1.

Kerusakan mangrove di Bolatena ini karena adanya kegiatan pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan mangrove dengan cara menebang  Kerusakan hutan mangrove di Desa Bolatena dikategorikan rusak jarang dengan jenis yang banyak mengalami kerusakan adalah Rhizophora. dan penyebab kerusakan karena faktor manusia dengan skor 207 artinya sangat berpengaruh terhadap kerusakan mangrove.  Namun demikian, kerusakan ini bisa juga disebabkan secara alamiah. Kerusakan alamiah antara lain karena faktor usia tanaman atau faktor lingkungan ekstrim yang membuat mangrove mati.  Sedangkan kerusakan karena aktifitas manusia dapat dibukti-buktikan dari bekas penebangan pada tunggul-tunggul tanaman.  Penebangan yang dilakukan masyarakat desa bertujuan untuk membuat pagar kebun, kayu bakar, bahan bangunan rumah dan bahan pembuat perahu.

Sisi lain yang patut dicermati selain dari kondisi kerusakan mangrove di Bolatena, juga pada keanekaragamannya.  Beberapa jenis hanya terlihat di lokasi ini dan tidak terlihat di daerah lain seperti pada Rote Barat atau Rote Barat Laut.  Dua di antaranya seperti pada gambar di atas.  Salah satunya memiliki buah seperti bulir padi namun biji di dalam sangat keras.  Dan yang kedua memiliki buah buni dan biji di dalam sangat keras. Kedua jenis tanaman tersebut memiliki karakteristik berupa pohon dan hidup di perairan asin/payau.  Sebagaimana menurut Santoso (2000) bahwa pada wilayah pesisir terpengaruh pasang surut air laut, tanaman yang mendominasi berupa spesies pohon atau semak yang khas.

Wacana Solusi yang Bijak

Tingginya aktivitas pemanfaatan sumberdaya mangrove di Desa Bolatena dan sekitarnya hendaknya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, mengingat segala aktifitas ekonomi masyarakat sangat bergantung pada keberadaan sumberdaya mangrove.  Akibat tingkat pemanfaatan yang tinggi ini terjadi penurunan luasan mangrove yang mengkhawatirkan dan akan semakin mengkhawatirkan karena belum terlihat adanya upaya penanaman kembali areal mangrove yang rusak.

Penebangan mangrove di Desa Bolatena belum tercatat, namun menurut Sub Dinas Kehutanan Kabupaten Rote Ndao, luas hutan mangrove di Kabupaten Rote Ndao tahun 2008 seluas 7.157,29 Ha, sedangkan tahun 2011 luas mangrove berkurang menjadi 7.157,00 Ha. Menurunnya luas mangrove di Kabupaten Rote Ndao Selama dua tahun seluas 2. 900 m2,  ini diakibatkan oleh kebutuhan masyarakat seperti pembuatan pagar kebun, kayu bakar, kayu bangunan dan perahu seperti yang telah disebutkan diatas.

Pengrusakan sumberdaya mangrove yang berlebihan ini sebagai konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk, pencemaran, pengetahuan dan pengelolaan sumberdaya mangrove yang tidak ramah lingkungan dan faktor penting lainnya.   Faktor-faktor ini merupakan komponen yang saling terkait untuk pemanfaatan sumberdaya mangrove yang seimbang dengan keberlangsungan sumberdaya mangrove itu sendiri.

Bahwa masyarakat desa telah mengetahui keberadaan mangrove, namun sebagian besar masyarakat masih melakukan penebangan mangrove.  Hal ini dibenarkan, sejauh masyarakat menjaga keseimbangan tanaman yang ditebang dengan melakukan penanaman kembali.

Kayu tanaman mangrove merupakan kayu dengan kualitas baik sehingga penggunaannya untuk bahan bangunan dan pembuatan perahu sangat membantu masyarakat desa.  Demikian pula penebangan mangrove untuk kayu bakar sangat membantu masyarakat desa sebagai salah satu energi substitusi dari minyak tanah.  Dan mengingat tingkat pendidikan masyarakat di  desa lokasi, 72% hanya tamat sekolah dasar, dengan pemahanan yang rendah tentang manfaat mangrove yang sangat strategis bagi hubungan timbal balik dengan kehidupan mereka, seyogyanya membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian mangrove dalam hal ini menghijaukan kembali lokasi mangrove yang telah rusak adalah kalimat kunci yang tidak dapat ditawar dan bukan bergaining politik di awang-awang.

* Penulis adalah Dosen Universitas Nusa Lontar – Rote NTT, Alumni Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika IPB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s