Sawah “Rooftop “ Menyiasati Banjir

Oleh: Nur Aini

Mahasiswa Pascasarjana ESK IPB

 

Bukan hanya konversi lahan, yang menggerogoti fungsi produksi pertanian, anomali iklim berupa bencana banjir juga.  Hal ini mengakibatkan kerugian pada produksi pertanian. Sementara penduduk Indonesia terus bertambah, diprediksi tahun 2015, 300 juta jiwa dengan kebutuhan pangan sebanyak 80-90 juta ton.  Sedangkan produksi aktual, hanya 72,1 juta ton pada akhir tahun 2013. 

Melihat kondisi tersebut mampu kah kita mencukupi kebutuhan pangan tersebut secara swasembada?  Lantas strategi apa yang dapat menyasatinya?

Kebutuhan Pangan

Merespon kebutuhan pangan penduduk tersebut, tertuang dalam dokumen “Rencana Aksi Bukitinggi 2014” yang berisi, Pemerintah menargetkan peningkatan produksi pangan utama nasional sesuai yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu menargetkan produksi padi tumbuh 8,04% dari 70,87 juta ton menjadi 76,57 juta ton.

Bukan hanya pada produksi padi, pemerintah juga menargetkan pertumbuhan produksi jagung 12,48% dari 18,51 juta ton menjadi 20,82 juta ton, kedelai tumbuh 85% dari 0,81 juta ton menjadi 1,5 juta ton, gula pasir tumbuh 22,05% dari 2,54 juta ton menjadi 3,10 juta ton dan daging sapi tumbuh 23,26% dari 0,43 juta ton menjadi 0,53 juta ton,” kata Menteri Pertanian Suswono saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2014 di Jakarta, Selasa (7/1). 

Bahkan dalam rangka pengamanan dan stabilisasi harga maka bawang merah dan cabai juga menjadi fokus perhatian untuk meningkatkan produksinya agar tidak terjadi gejolak harga.

Apabila target tersebut dapat dicapai, diperkirakan kebutuhan pangan utama nasional sebagian besar dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri kecuali kedelai, daging dan gula diharapkan jumlah impornya tidak terlalu besar.

Namun, ditengah bencana yang silih berganti menerpa bangsa, pencapaian target ini tidaklah mudah, seperti jutaan hektar sawah yang gagal panen akibat terjangan banjir yang melanda areal persawah di Pulau Jawa, Bali dan hampir menyeluruh di nusantara, merupakan bencana tahunan yang sulit dihindari. 

Selain itu konversi lahan pertanian ke non pertanian, tidak dapat dihindari.  Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan Pulau jawa dalam beberapa tahun ke depan tetap menjadi pusat produksi padi.  Namun demikian, penurunan luas lahan sawah di Jawa terus menurun, dan berdasarkan data 2005-2010 rata-rata turun 0,3 persen.  Penurunan tersebut karena lahan produktif dialihfunsikan untuk kegiatan non pertanian.

Alternatif Solusi

Penurunan lahan produktif pertanian dan bencana banjir, bukan halangan untuk mengoptimalkan pencapaian target produksi pertanian.  Bahkan menjadi tantangan bagi segenap stakeholder terkait untuk dapat mewujudkan target tersebut.  Seperti inovasi yang dilakukan petani asal Shaoxing di provinsi Zhejiang, China timur, bernama Peng Qiugen.  Dia memanfaatkan atap rumah bertingkatnya menjadi lahan pertanian yang subur  Inovasi ini disebut “rooftop rice”

Hasilnya mengejutkan dirinya, karena sawah di atap hasil panen 30% lebih banyak ketimbang bersawah di lahan persawahan di atas tanah, termasuk panen semangka 400 kg pada 2012. Dan tahun ini (2013), produksi sawah uniknya dilaporkan cukup untuk memberi makan keluarganya selama satu tahun.

Selain itu, ia juga menanam semangka, sayuran dan tanaman lainnya di lahan seluas 120 meter persegi di atap rumah yang tingginya lebih 12 meter di atas tanah.

“Rooftop rice”  merupakan salah satu alternatif terbaru menggunakan atap rumah sebagai lahan pertanian.  Selain tanaman padi, juga tanaman semusim lainnya.

Beberapa keuntungan lahan pertanian “rooftop rice” ini antara lain.  Pertama, mudah dalam mengontrol penggunaan air bahkan pada saat banjir terhindar dari genangan air yang menyebabkan gagal panen.  Kedua, bukan hanya kemudahan dalam hal mengontrol air, tapi juga dalam kegiatan cocok tanam lainnya, seperti penyiangan atau pembuangan gulma.  Ketiga, karena tidak ada jarak dengan pemukiman maka, efisien bagi petani dalam hal mengatur waktu kegiatan cocok tanam.  Keempat, relatif dekat pada pasar, bila produksi akan dijual.  Kelima tentu saja mengatasi keterbatasan lahan pertanian.

Meski demikian, keberhasilan “rooftop rice”  ini perlu didukungan oleh berbagai pihak.  Bukan hanya berupa kajian teknis di lapangan, tapi juga menyangkut kebijakan pada saat alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian, seperti mewajibkan mengganti lahan-lahan pertanian produktif bagi peruntukan perumahan, perkantoran, dan bangunan industri yang memungkinan untuk membuat lahan areal pertanian di atas atap gedung. 

Bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena beberapa bangunan atau gedung di perkotaan, justeru telah melakukan penanaman tanaman pada bangunan gedung mereka, walaupun belum pada tahap tanaman pangan.  Jadi tunggu apa lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s