PETUALANGAN PERTAMA MENELUSURI CILIWUNG HULU*

Oleh: Nur Aini**

Sebagai perkenalan, kupilih sekitar pintu air Katulampa sebagai pengamatan awal daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.  Pilihan ini bukan secara random, tapi lebih karena prefere, relatif dekat dengan tempat tinggalku sekarang.  Di pintu air ini Ciliwung terbagi dua.  Salah satu sungai yang bercirikan batu-batu besar berserakan di badan sungai, dari awal sungai hingga sungai membelah Kebun Raya Bogor dan seterusnya.

Kondisi debet air sungai di saat curah hujan biasa-biasa saja, belum membuatku tertarik.  Tapi saat posisi si metik di atas bedungan, aku menundukkan kepala lebih dalam untuk mencoba melihat kumpulan air yang akan dilepas di pintu air tersebut.  Perutku sontak terasa mual.  Kotoran manusia membuncah, bertebaran seperti serbuk gergaji.  Ini kah kondisi air yang selama ini digunakan untuk segala kebutuhan terkait air oleh lima kebupaten/kota yang dilaluinya menjelang Teluk Jakarta?  Dengan rentang kira-kira tiga kilometer saat aku berparalel menelusuri sungai ini, tidak kurang satu “toilet” per sepuluh atau dua puluh meter secara kasat mata terlihat.

Sedikit berdebar, perjalanan “sorangan” ini kulanjutkan menyeberang pintu air.   Dengan bermodal kosa kata punteun yang kuusahakan dilafazkan sefasih dan seramah mungkin, aku menelusuri salah satu sisi bantaran sungai yang lebih tinggi dari sisi satunya.  Aku mencari tempat yang sedikit sepi untuk mengistirahatkan si metik sejenak, sambil mengambil beberapa gambar.  Karena jalan yang kupilih ini sepi, nyaris setiap ada kendaraan yang akan lewat, terpaksa si metik, kumiringkan atau kudorong ke tempat yang memungkinkan kendaraan roda dua lain lewat, sambil mengucapkan kosa kata “punteun” itu tadi.  Aku pun sempat melewati satu tempat usaha kerupuk kulit sapi di bantaran tersebut, namun tidak bisa lagi ke hulu.  Aku melewati kiri kanan gantungan kulit sapi yang beraroma khas dan harus memutar haluan di lokasi penjemuran kulit sapi yang siap digoreng, lalu melewati pekerja-pekerja tersebut itu lagi dengan rasa malu yang kusamarkan dengan membeli satu ons kerupuk kulit. 

Rute perjalanan kupindahkan ke bantaran pada sisi yang rendah.  Rute yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua ini terlihat lebih ramai.  Tembok beton yang dibuat di sisi ini membuat kondisi bantaran sungai terlihat lebih bersih.   Kira-kira lima ratus meter dari pintu air ke arah hulu, perjalananku kembali memotong sungai.  Kali ini jembatan sepanjang 150 meter yang kulalui hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan roda dua.  Dengan sabar, dilewati bergantian oleh pengguna yang berlawanan arah, melintasinya.  

Kekhawaritanku bukan hanya pada kondisi-kondisi jalan yang tak terduga, tapi juga pada perbekalan bahan bakar yang belum sempat kuisi.  Sudah di bawah garis merah.  Dan bukan perjalanan bila tanpa berujung.  Seorang bapak tua yang kusapa di ujung perjalanan yang ternyata memasuki rest area pertama dari Terminal Baranang Siang Bogor menuju puncak, memberitahu bahwa “dipayun” ada pom bensin.  Sekali pun saat kutanya, “apakah di depan, lokasi wisata Taman Matahari yang menggunakan aliran Ciliwung sebagai arena arung jeram?”  Si Bapak menjawab, “Ya, yang punya tanah ini adalah Pak Hari.”  “Ibu boleh lewat, dipayun ada pom bensin.”  Alhamdullillah.  

 

*Buah tangan pertama pengamatan DAS Ciliwung, Bogor, 27 Juli 2013

** Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika ImageIPB

Sorangan (Sunda) : sendirian

Dipayun (Sunda): di depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s