ISLAMISASI JURNALISTIK

Oleh: Nur Aini**

Islamisasi jurnalistik, suatu idiom yang kental akan pemasukan faham Islam ke kancah kejurnalisikan.  Menjadi satu tanda tanya mengapa jurnalistik harus di-Islamisasikan?  Khususnya di Indonesia, sebagai mayoritas negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Apakah jurnalistik di Indonesia sudah mencerminkan tatanan kehidupan penduduknya yang berkeyakinan Islam?

Berbagai aktifitas kejurnalistikan mencakup peliputan atau pengumpulan data.  Sudahkah berkaidah yang santun mengikuti sunnah Rosullullah SAW dalam mencari tahu data.  Sebagaimana pembawa risalah Islam yang ada dalam diri  Baginda Rosul yang kiranya menjadi sendi-sendi kejurnalistikan yang Islamiah.  Seperti sifat shiddiq Rosulullah SAW.  Bahwa bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya yang benar. perbuatan yang dicontohkan oleh baginda Rosulullah SAW adalah sejalan dengan perkataannya.   Seiring dengan sifat amanah (benar-benar bisa dipercaya). 

Aktifitas jurnalistik selanjutnya adalah penulisan dan pengeditan.  Bagaimana penelaahan dan kajian, dari yang sederhana hingga advance ditulis oleh seorang jurnalis.  Sifat yang diteladankan oleh Rosullullah SAW untuk penulisan dan pengeditan adalah fathanah (cerdas).  Tidak hanya cerdas dalam menganalisa, Beliau juga cerdas berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.  Sebaliknya penulisan oleh seorang jurnalis yang hanya mengusung ideologi kapitalisme/pragmatisme dalam ranah informasi, hampir-hampir tak bisa lagi diterima dalam prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lilalamin. 

Aktifitas jurnalistik yang tidak kalah penting dan menjadi ujung tombak informasi adalah publikasi dan penyebaran kepada masyarakat yang membutuhkan.  Informasi yang disebarkan ini lah yang disebut berita, hendaklah mengacu pada sifat tabligh Rosullullah SAW.  Apa yang kita rasakan hari ini dari gabungan kegiatan kejurnalisikan di Indonesia? Kebanyakan berbudaya dan lahir dari budaya kapitalis/pragmatis. Sehingga secara implisit hanya menjadi pengusung budaya itu dalam tugas-tugas jurnalistiknya. Maka, jangan heran jika umumnya perilaku pekerja media, cenderung bersikap materialistis, individualis dan mengabaikan pesan-pesan moral keagamaan (Islam) dalam melaksanakan tugas mulia itu. Namun, perilaku demikian tak bisa disalahkan, karena habit itu terbentuk dari peradaban kapitalistik/pragmatis di sekeliling mereka.

Upaya menyiasati kelemahan itu, bisa dimulai dari melahirkan SDM media Islami yang berkualitas, secara moral dan profesional. SDM itulah kelak yang akan mengisi ruang-ruang produksi media dari seorang jurnalis yang hasil pengolahan atas informasi itu disebarkan ke publik. Upaya melahirkan SDM itu, dilakukan melalui proses pendidikan, yang akan menjadi katalis dalam cikal bakal Islamisasi jurnalistik di Indonesia.  Insyaallah…

  *:  Salah satu syarat pengajuan beasiswa penuh S1 pada Prodi Jurnalistik Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Ibnu Khaldun Bogor

**:  Nur Aini orang tua Ratna Yulika Go, calon penerima beasiswa penuh S1 pada Prodi Jurnalistik Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s