BERBENAHLAH “NEGERI SETENGAH RIBU PULAU” MENUJU PROPINSI KEPULAUAN NTT YANG MENYEJAHTERAKAN RAKYAT

Oleh Nur Aini*

Telah dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa potensi kelautan yang luar  biasa bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.  Kalau saya menyebut negeri ini Negeri Setengah Ribu Pulau karena propinsi ini memiliki 566 pulau (42 berpenghuni dan 524 belum berpenghuni/BRKP 2006) dan  alasan saya sederhana menjulukinya Negeri Setengah Ribu Pulau selain karena jumlahnya yang tidak sampai seribu atau hanya setengah ribu, juga karena kalau beberapa pendapat telah menamainya dengan Negeri Seribu Pulau maka akan rancu dengan Negeri Seribu Pulau yang telah dijulukkan pada propinsi Ambon dan Maluku.

Meskipun saya menamainya Negeri Setengah Ribu Pulau, namun kata Setengah Ribu Pulau bukan berarti setengah-setengah dalam hal potensi kelautan . Dalam hal potensi lestari perikanan tangkap NTT sebanyak 388.600 ton per tahun.  Kemudian potensi pariwisata bahari sebut saja eksotiknya Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang bukan saja karena reptilia peninggalan zaman purba yang hanya hidup secara alami di gugusan pulau bagian barat Pulau Flores tersebut, tapi masih ada lagi seperti potensi wisata bahari berupa wisata pemancingan yang didukung oleh potensi perikanan dan potensi oceanografis perairannya.  Demikian pula potensi wisata kultur bahari “heroik penangkapan paus” yang konon nyaris ditiadakan  demi wacana sebuah konservasi Laut Sawu.

Melihat potensi oceanografis di perairan NTT seperti kandungan nutrient yang kaya sebagai akibat dari jalur perpindahan masa air 20 jt m3 per detik dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia, kecerahan, dan suhu yang ideal bagi berbagai biota  laut  menyebabkan suburnya perairan NTT baik untuk potensi perikanan tangkap maupun budidaya berbagai ikan (budidaya jenis-jenis kerapu dan ikan bernilai ekonomi tinggi lainnya) maupun non ikan (seperti budidaya rumput laut, kerang mutiara).  Menurut Dinas Kelautan Perikanan Propinsi NTT, potensi budidaya rumput laut yakni 9.346 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di NTT, sedangkan potensi budidaya laut NTT secara keseluruhan menurut  Ditjen Perikanan Budidaya (2000)  lebih banyak lagi yakni 37.500 ha.

Hal menarik lainnya mengenai potensi perairan NTT yang kurang disadari bahwa perairan NTT berada di alur lintas kepulauan Indonesia (ALKI III).  Dengan potensi berada di alur lalu lintas pelayaran pastinya memberi dampak positif dan negatif yang perlu dicemati oleh masyarakat NTT.  Dampak negatif yang perlu diwaspadai sebagai perairan yang menjadi alur lalu lintas pelayaran adalah masalah pencemaran laut, kegiatan illegal fishing, unreported fishing dan unregulated fishing (IUU) yang sangat merugikan masyarakat NTT.

Dampak positifnya sebagai perairan di alur lalu lintas pelayaran seharusnya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah dalam bidang ekspor yang tidak perlu jauh membawa produk NTT yang akan diekspor melalui Surabaya atau Makasar, contohnya selama ini produk rumput laut NTT ibarat “telur mata sapi” (ayam punya telur tapi sapi yang dapat nama).  Sehingga nilai marjin yang diterima nelayan pembudidaya rumput laut akan lebih baik tanpa harus melalui rantai pemasaran yang  keuntungannya lebih banyak diterima pedagang.  Untuk permintaan rumput laut yang dibudidayakan di NTT, penulis punya pengalaman empiris saat mengikuti pameran di Jakarta.  Demikian besar antusias peminat rumput laut NTT dari Korea, Jepang, bahkan Eropa, namun kesulitan dalam hal contact person/institution.  Suatu hal teknis yang kelihatannya sepele tapi perlu mendapat perhatian serius stakeholder terkait.

Menjadi sorotan penulis untuk menuju kebaharian yang “diakui” adalah terintegrasinya cara pandang marine oriented dari seluruh komponen baik dari pihak pemerintah dalam arti luas, swasta, akademisi dan masyarakat.  Secara Top down pemerintah propinsi, Gemala yang menjadi cikal bakal pembangunan kelautan berbasis marine oriented sudah selayaknya diimlementasikan dan bukan lagi “menu program”.  Potensi kelautan yang ada jangan hanya dipandangi tapi digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat flabomara, karena untuk menjadi maju, NTT harus bangkit mendayagunakan segenap potensi secara efisien, adil, dan berkelanjutan.  Good luck. 

 

* Penulis adalah alumni Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika IPB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s