ANALISIS KESESUAIAN FAKTOR GEOGRAFI LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA NEMBERALA KECAMATAN ROTE BARAT KABUPATEN ROTE NDAO

Abstract

Ir Nur Aini M.Si

Suhana S.Pi, M.Si.

Devi S M. Adu

 

Problems found in seaweed farming in the village of Nemberala the lack of public attention to the suitability of waters in the development of seaweed cultivation. The purpose of this research was to determine the level of brightness, strong currents, depth and pH in accordance with the standards of seaweed farming. The research location is located in the village of Nemberala of West District Rote of Rote Ndao, a study from January to February. The method used is the method of observation, literature and documentary studies. The results that the physical parameters of the brightness level of the average 152.5cm then incompatible with the standard of living seaweed because all it takes is 200-500cm, strong currents with an average of 0.4 m/sec in accordance with the standard of living because the required seaweed is  0.2 to 0.4 m/sec, the depth of the water with an average of 40 to1000cm then in accordance with the standard of living seaweed because what is needed is 0.40 to 400 cm.

Keywords: Factor Geography, seaweed cultivation, village Nemberala.

 

LATAR BELAKANG

Indonesia memiliki garis pantai ke empat terpanjang di dunia yaitu sepanjang 95.181 km yang tersebar pulau-pulau besar dan kecil. Garis pantai ini berpotensi bagi pengembangan budidaya laut. Potensi lahan budidaya laut di Kabupaten Rote Ndao seluas 112.210 ha. Walaupun demikian potensi pengembangan pesisir yang ideal bagi kegiatan pembudidayaan belum teridentifikasi secara menyeluruh. Banyak faktor yang mempengaruh kegiatan pengembangan budidaya laut, diantaranya faktor geografi.  Hal ini menjadi sangat penting dalam pertimbangan untuk  penentuan kawasan pengembangan, agar aktivitas pembudidayaan dapat dilaksanakan secara produktif, efisien, berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan serta kualitas mutu produk yang baik.

Dalam pembangunan di wilayah pesisir, salah satu pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah adalah pengembangan budidaya rumput laut. Melalui program ini diharapkan dapat merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi wilayah akibat meningkatnya pendapatan masyarakat setempat.

Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam divisio thallophyta.  Menurut Anggadiredja et al. (2006) dari segi morfologinya, rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara batang dan daun. Secara keseluruhan, tanaman ini mempunyai morfologi yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda.  Bentuk-bentuk sebenarnya hanyalah thallus belaka.  Bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam antara lain bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong.

Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan Budidaya, 2004).

Usaha budidaya rumput laut sendiri merupakan suatu usaha yang bertujuan untuk menambah dan meningkatkan pendapatan petani (masyarakat pesisir) Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam, (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001). 

Desa Nemberala Kecamatan Rote Barat Kabupaten Rote Ndao memiliki potensi perairan yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membudidayakan rumput laut untuk meningkatkan pendapatan selain juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Dalam Pengembangan budidaya rumput laut masyarakat perlu mengetahui faktor-faktor geografis yang dapat mendukung budidaya rumput laut untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

 

TUJUAN PENELITIAN

  1. Untuk mengetahui tingkat kejernihan air untuk pengembangan budidaya rumput laut.
  2. Untuk mengetahui kuat arus untuk pengembangan budidaya rumput laut
  3. Untuk mengetahui kedalaman air untuk pengembangan budidaya rumput laut

 

KERANGKA BERPIKIR

Kerangka berpikir dibangun dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antar variabel penelitian.secara skematis digambarkan sebagai berikut.

Dalam penelitian ini digunakan satu variabel independent yaitu geografis dinotasikan dengan X, sedangkan yang menjadi variabel dependent adalah budidaya rumput laut dinotasikan dengan Y. hubungan antar  variabel dapat digambarkan dengan kerangka berpikir sebagai berikut.

 

Faktor Pendukung Geografis

Budidaya Rumput Laut

Tingkat Kejernihan Air

Pergerakan Air

Kedalaman Air

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1  Kerangka Berpikir Penellitian

Dari kerangka tersebut menujukan bahwa faktor geografis yang mendukung budidaya rumput laut yaitu tingkat kejernihan air,pergerakan air dan kedalaman air.

 

METODE PENELITIAN

Lokasi dan waktu Penelitian

Lokasi penelitian di Desa Nemberala Kecamatan Rote Barat Kabupaten Rote Ndao,waktu penelitian Januari – Februari 2013.

Populasi, Sampel

Populasi penelitian adalah luas lahan  budidaya rumput laut di Desa Nemberala seluas 150.000 m2dengan luas sampel menggunakan formulasi Rumus Slovin dalam Umar (2002) sebagai berikut:

 

Keterangan  :   n          =  Jumlah  sampel  minimum

                        N         =  Jumlah  populasi      

                        d          =  Presesi,  tingkat  keyakinan  95%  =  5%   

1             =  Konstanta

 

=  109090,9

=  109.091  m2

Berdasarkan hasil perhitungan Slovin tersebut maka luas sample adalah 109.091  m2.  Luas wilayah sample ini di bagi atas empat titik dengan jarak yang sama sepanjang garis pantai.

Jenis  Data dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yaitu (1) data kuantitatif, data yang dikumpul dalam bentuk angka-angka dari kondisi lahan dan (2) data kualitatif, data yang dikumpul dalam bentuk penyataan dari para petani rumput laut. 

Teknik pengumpulan data yaitu (1) observasi, pengamatan langsung terhadap objek penelitian, (2) studi dokumenter, penelaan terhadap documentasi yang terdapat pada kantor Desa Nembrala, (3) studi kepustakaan, penelaan terhadap teori-teori yang terdapat pada literatur-literatur yang mendukung masalah.

Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yaitu (1) editing, penyusunan kembali data berdasarkan hasil pengamatan, (2) tabulasi, proses tabulasi hasil pengamatan di lokasi penelitian ke dalam table induk untuk kemudian dideskripsikan untuk setiap indikator empirik dari variabel penelitian yang digunakan.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Nemberala dengan luas 9.80 M2 terdiri dari 5 wilayah dusun 5 wilayah RT dan 5 wilayah RW memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

–  Sebelah utara berbatasan denganDesa Sedeoen

–  Sebelah Selatan berbatasan denganDesa Oenggaut

–  Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Boa

–  Sebelah Barat berbatasan dengan Laut.

Keadaan Penduduk

Penduduk merupakan modal dasar pembangunan karena penduduk merupakan subyek sekaligus obyek pembangunan. Desa Nemberala dihuni oleh 282 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak 1037 orang yang terdiri dari laki-laki 505 orang dan 532 perempuan.

Hasil penelitian menujukan bahwa penduduk Nemberala yang Sekolah Dasar (330 orang), S L T P (127 orang), S L T A (70 orang), Buta Huruf            (50 orang), Putus Sekolah ( 62 orang), Belum Sekolah  (130 orang) dan Sementara Sekolah (268 orang).  Dari jumlah tersebut nampak jelas bahwa dari jenjang pendidikan yang diselesaikan, menujukan bahwa mayoritas penduduk berpendidikan  Sekolah Dasar.

Pekerjaan merupakan mata pencaharian yang menghasilkan barang dan jasa atau uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mata pencarian penduduk Desa Nemberala mayoritas dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan

No

Mata Pencarian

Jumlah (kk)

1

Pegawai Negeri Sipil

37

2

Nelayan

35

3

Wiraswasta

44

4

Petani

166

Jumlah

282

Sumber:Kantor Desa Nemberala 2013

 

Budidaya Rumput Laut di Desa Nembrala

Dalam melakukan pembibitan para petani rumput laut harus memilih bibit yang berkualitas agar dapat tumbuh sehat.  Oleh karena itu perlu dilakukan pemlihan bibit tersebut dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Bibit yang digunakan merupakan thalus muda yang bercabang banyak, rimbun dan berujung runcing.
  2. Bibit tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka atau terkelupas sebagai akibat terserang penyakit ice-ice atau terkena bahan cemaran seperti minyak.
  3. Umur bibit ­+ 25 hari
  4. Bibit seragam satu spesies
  5. Thalus bersih, segar dan berwarna gelap dan cerah
  6. Thalus tidak rusak .patah layu dan berlendir.

Jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Nemberala sebanyak 3 jenis yaitu Eucheuma cottoni, Eucheuma spinosum dan Eucheuma horridum.  Metode budidaya yang digunakan hanya satu yaitu Metode Tali Panjang (Long Line).  Metode ini dilakukan dengan cara mengikat bibit rumput laut  pada simpul-simpul tali yang dibentangkan memanjang dengan mengikat pada patok tali dan memakai botol sebagai pelampung. Produksi yang dihasilkan petani budidaya rumput laut di Desa Nemberala berkisar 5-7 ton.  Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2.  Produksi Rumput  Laut di Desa Nembrala 2010-2012

Tahun

Produksi

2010

7 ton

2011

5 ton

2012

6 ton

Sumber: Data Primer Hasil Wawancara

Kesesuaian dan Syarat Hidup Rumput Laut di Desa Nembrala

Hasil penelitian menunjukan bahwa garis pantai budidaya rumput laut dengan panjang 1.5 km (1500 m) dan  garis titik dari pantai ke tengah laut dengan panjang 100 m,  jadi luas lahan  budidaya rumput laut di Desa Nemberala seluas 150.000 m2.   Berdasarkan hasil perhitungan Slovin  maka luas sample adalah 109.091  m2.  Kondisi pantai Nemberala bertopografi landai dengan garis pantai sepanjang 1,5 km. Untuk lebih jelas dapat dilihat  pada gambar 2.

 

 

 

 

Gambar 2. Lokasi Pantai Nembrala

 

Titik pengamatanan di lokasi penelitian budidaya rumput laut di Desa Nemberala dilakukan pengukuran pada 4 (empat) titik pengamatan.  Masing-masing  titik dan hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.  Letak Astronomis pada 4 Titik Pengamatan

Titik

Letak Astronomi

Kecerahan

(cm)

Kuat Arus

(m/dt)

Kedalaman Air

 

 

Surut

(cm)

Pasang

(cm)

I

10o53’ 31.6” LS

122049’16.1”BT

152

0,37

40

1000

II

10 053’2 3.9”LS

122 049’19.3”BT

200

0,38

40

1000

III

10 053 ‘15.3”LS

122 049”23.7”BT

100

0,52

40

1000

IV

10053’04.0”LS

22 049’27.6”BT

158

0,33

40

1000

Sumber: Data Primer Hasil Pengamatan

Syarat hidup optimal budidaya rumput laut dan rata-rata hasil penelitian pengukuran langsung di lokasi budidaya Desa  Nemberala Kecamatan Rote Barat Kabupaten Rote Ndao, dapat dilihat pada pada Tabel 4.

Tabel 4.   Syarat Hidup Optimal Budidaya Rumput Laut dan Kondisi di Lokasi Penelitian

Parameter

Syarat Hidup Optimal

Kondisi Rata-rata di Lokasi Penelitian

Fisika:

 

 

Kecerahan

200-500 cm

 152,5 cm

Kuat Arus

0,2 – 0,4 m/dt

0,4 m/dt

Kedalaman Air

40- 400 cm

40-1000 cm

Sunber:  Aslan, 1998

Rumput laut hidup optimal pada kecerahan air antara 200-500 cm.  Kecerahan air dipengaruhi antara lain oleh substat pesisir seperti karang mati, moluska, pasir dan lumpur.  Kecerahan air pada lokasi penelitian yaitu 100-200 cm.  Artinya batas sinar matahari menembus air laut dengan kecerahan rata-rata 152,5 cm.  Pengukuran rata-rata kedalaman pada waktu air surut, berada pada kedalaman 40-50cm dari permukaan laut.

Hasil pengamatan kecerahan dengan rata-rata 152.5 cm., bila dibandingkan dengan standar hidup rumput laut maka tidak memenuhi standar budidaya rumput laut. Hal ini disebabkan perairan yang berlumpur sehingga air menjadi  keruh dan menghambat cahaya matahari.  Kondisi kecerahan yang rendah pada budidaya rumput laut berpengaruh pada proses fotosintesis.  Thalus–thalus rumput laut menjadi pucat dan sedikit memiliki percabangan. Selanjutnya akan mempengaruhi perkembangan budidaya rumput laut dan produksi yang dihasilkan tidak maksimal.

Kecerahan yang tinggi diperlukan dalam budidaya rumput laut. Hal ini dimaksudkan agar penetrasi cahaya matahari dapat masuk ke dalam air.  Intensitas sinar yang diterima secara sempurna oleh thallus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis.

Diharapkan kepada petani rumput laut agar dalam pengembangan budidaya rumput laut agar memilih dasar perairan yang berupa pasir kasar yang becampur dengan pecahan karang.

Pada pengamatan kuat arus di lokasi penelitian yaitu antara 0,33-0,52 m/dt. Penyebab terjadinya arus karena adanya perbedaan densitas masa air laut, tiupan angin yang terus-menerus di atas permukaan laut dan pasang-surut terutama di daerah pesisir pantai.  Pasang surut juga dapat menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari pencemaran.  Untuk menghindari kerusakan fisik sarana budidaya maupun rumput laut dari pangaruh kuat arus dan ombak yang kuat, maka diperlukan  lokasi yang terlindung dari hempasan ombak.  Lokasi yang terhindar dari kuat arus dan ombak yang kuat adalah di perairan teluk atau pantai terbuka namun tetap terlindung oleh karang penghalang atau pulau di depannya (Departemen Pertanian, 2005).

Rata-rata kuat arus di perairan Desa Nemberala sesuai hasil pengamatan adalah 0,4 m/dt.  Bila dibandingkan hasil pengukuran ini dengan standar budidaya rumput laut, maka kuat arus di perairan Desa Nembrala termasuk dalam syarat hidup optimal budidaya rumput laut.  Kondisi kuat arus ini akan mempermudah panggantian air dan penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak sampai merusak tanaman.  Pada saat yang lain, manfaat dari arus adalah menyuplai makanan, membantu kelarutan oksigen, penyebaran plankton dan penghilangan CO2 maupun sisa-sisa produk biota laut.  

Kenyataan yang tidak dapat ditoleransi terhadap kuat maupun lemahnya arus akan menghambat kegiatan budidaya yaitu bahwa arus juga sangat penting dalam sirkulasi air, pembawa bahan terlarut dan padatan tersuspensi, serta dapat berdampak pada keberadaan organisme penempel.  Selain itu arus mempunyai berpengaruh negaatif bagi kehidupan biota perairan. Arus dapat menyebabkan ausnya jaringan jazad hidup akibat pengikisan atau teraduknya subsrat dasar berlumpur yang berakibat pada kekeruhan sehlah ingga terhambatnya fotosintesa.  

Pengamatan terhadap kedalaman air di lokasi penelitian yaitu 40 cm pada pengukuran surut terendah dan 1000 cm pada pasang tertinggi.  Hasil pengukuran tersebut sesuai dengan standar hidup optimal rumput laut. Syarat hidup optimal budidaya rumput laut adalah 40-400 cm.  syarat ini adalah untuk menghindari rumput laut dari kekeringan  (Ditjenkan Budidaya,  2005).

Rumput laut sangat menbutuhkan matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa.  Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut.  Agar kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka  syarat kedalaman perairan dalam membudidayakan rumput laut harus diperhatikan.  Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga dipengaruhi oleh unsur hara baik unsur makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman rumput laut.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa

  1. Tingkat kecerahan air  di lokasi budidaya rumput laut di Desa Nemberala hanya mencapai 152,2 cm, hal ini tidak sesuai dengan standar hidup rumput laut karena yang dibutuhkan adalah 200-500 cm.
  2. Kuat arus di lokasi budidaya rumput laut di Desa Nemberala 0,4 m/dt, hal ini sesuai dengan standar hidup rumput laut karena yang  diperlukan adalah 0,2-0,4 m/dt.
  3. Kedalaman air di lokasi budidaya rumput laut di Desa Nemberala 40-1000 cm, hal ini sesuai dengan standar hidup rumput laut karena yang diperlukan adalah 400 cm.

 

SARAN

Diharapkan kepada petani di Desa Nembrala agar dalam pengembangan budidaya  rumput  perlu memperhatikan parameter kecerahan air agar produksi rumput laut dapat lebih maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggadiredja, J.T., A. Zatnika, H. Purwoto, dan S.Istini. 2006. Rumput Laut.  Penebar Swadaya. Bogor.

Ariyati, R.W., L. Sya’rani, dan E. Arini. 2007. Analisis Kesesuaian Perairan Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan Sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Pasir Laut. 3(1): 27-45.

Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut Eucheuma spp. Jakarta.

Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001. Teknologi Budidaya Laut dan Pengembangan Sea Farming di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan.

Departemen Pertanian,2005. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Pusat Penelitian Pengembangan Perikanan.

Direktorat Pembudidayaan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (2004). Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Direktorat Pembudidayaan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan.

Direktorat Pembudidayaan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (2005). Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Direktorat Pembudidayaan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan

Kadi, A. 2004. Rumput Laut Nilai Ekonomis dan Budidayanya. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Kadi, A. dan Sulistijo. 1988. Inventarisasi Jenis – jenis Rumput Laut di Karimun Jawa. Balai Penelitian dan Pengembangan Laut, P2O-LIPI. Jakarta.

Mubarak, H. 1981. Budidaya Rumput Laut. Fisheries and Aquaculture Department – FAO. Bali. Indonesia: dipresentasikan pada Training Workshop on Seafarming, Part II, 1-6 Maret 1981.

Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta

Prahasta, E. 2002. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografi. Informatika Bandung. Bandung.

Standar Nasional Indonesia. 2010. Produksi Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) – Bagian 2: Metode Long-line. Badan Standardisasi Nasional. SNI : 7579.2:2010

Sulistijo, M.S. 2002. Penelitian Budidaya Rumput Laut (Alga Makro/Seaweed) di Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

2 thoughts on “ANALISIS KESESUAIAN FAKTOR GEOGRAFI LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA NEMBERALA KECAMATAN ROTE BARAT KABUPATEN ROTE NDAO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s