HUJAN DI BUMI YANG KERING ROTE NDAO

Oleh Nur Aini*

Telah tiga minggu hujan turun di Pulau Terselatan Indonesia.  Meski tidak setiap hari, namun sudah menandakan musim hujan telah tiba.   Musim yang aku tunggu-tunggu dengan berbagai alasan, antara lain aku suka gemercik air, aku suka bercocok tanam terlebih aku ingin merasakan musim hujan di Pulau Lontar ini.  Bukan hanya itu, aku ingin mahasiswa bimbinganku bisa segera melaksanakan penelitiannya untuk tugas akhir mereka.  Duh idealis sekali rasanya.

Betapa tidak, melihat bongkah-bongkah tanah yang terbelah-belah akibat kurang air mengingatkan aku pada musim kemarau panjang saat aku sekolah dasar.  Tanah merah di halaman rumahku menjadi bercelah-celah dan aku takut celah itu akan melebar sehingga dapat menelan apa saja yang ada di atasnya.  Uh dramatis sekali aku melihat bongkah tanah di sekelilingku ini.

Bedanya tanah di sini berwarna gelap dan masyarakat di sini menganggap itu biasa-biasa saja.  Sementara aku sudah tidak sabar bersahabat dengan musim hujan sesungguhnya di daerah yang musim panasnya bisa 238 hari setiap tahunnya dan suhu yang luar biasa menurutku (23-33oC).

Melihat hujan secara sempurna membasahi tanah yang berbongkah dan terbelah-belah ini, terkabulkan sudah.  Aroma tanah kering ditimpa hujan seperti saat awal turun hujan, tidak lagi tercium.  Gemercik air hujan yang turun semakin deras.  Bahkan suara khas “kerbau jepang” merayap di tanah-tanah sawah pertanian terdengar sudah, memanggil-manggilku, minimal melihat dimana gerangan kegairahan salah satu usaha budadaya pertanian dimulai.

Dan aku tidak ragu untuk menembus gerimis kecil, menempuh tugasku sebagai tenaga pengajar bahkan ke kebun percobaan kampus atau ke luar kampus mendampingi mahasiswa bimbinganku melaksanakan penelitian mereka.

Sebelum musim hujan tiba, aku sudah mencari-cari “masalah” tanaman apa yang bisa kutanam.  Mulai dari bunga yang kuminta pada rumah makan padang yang tidak jauh dari kampus, stek tanaman dari teman dan mahasiswaku, benih jagung dan pepaya, bahkan bunga yang kutemukan tumbuh di tepi jalan  dan yang tumbuh di sekitar sumber mata air Oemao berderet-deret menghiasi teras mess.  Berjejalan dengan polibag praktikum mahasiswa yang sebagian kutanam di kebun percobaan kampus.

Tanah yang kemarin kulihat berbongkah dan terbelah, perlahan mulai rata.  Aku melihat persamaan tanah yang kuinjak ini, dengan tanah di daerah Cianjur Jawa Barat, sangat gembur.  Kegilaanku untuk bertanam-tanam semakin menjadi.  Aku berharap mendapat teman atau siapapun untuk bercocok tanam.  Bersamaan dengan beberapa draf proposal mahasiswa pertanian yang telah selesai aku koreksi, akhirnya aku bertemu teman untuk bercocok tanam.

Terlepas dari udara yang panas dan periode hari “tidak hujan” yang lama, aku optimis tanamanku akan baik-baik saja sebagaimana menurut data Statistik Daerah Rote Ndao tahun 2012 bahwa meski kekeringan tetap terjadi, hal menarik justeru pada tahun 2011 terjadi peningkatan besar-besaran hasil pertanian di Rote Ndao dari tahun sebelumnya.  Ini perlu dicermati untuk dijadikan momentum dalam meningkatkan perekonomian Rote Ndao berbasis lahan kering.

Terkait pertanian lahan kering, merujuk hasil penelitian Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa Kabupaten Rote Ndao sebagai bagian dari Propinsi NTT menyimpulkan bahwa Rote Ndao tidak termasuk daerah bencana kekeringan (dalam hal ini bencana kekeringan tidak identik dengan daerah kering). Dan ini tidaklah mudah dalam mengelola lahan kering agar menjadi lebih produktif, karena erat dengan sistem prasarana pengairan seperti embung, bendungan, dan waduk yang dapat dibangun serta teknik-teknik budidaya yang tepat.

Beberapa aplikasi teknologi sederhana yang dapat dikembangkan adalah (1) penataan lahan sesuai dengan kearifan lokal serta menentukan garis kontur yang mengikuti garis kontur/memotong lereng, sehingga efektivitas dalam menekan erosi, (2) pengidentifikasian sumber-sumber air yang potensial dan sistem pengairan yang tepat untuk dapat mengairi lahan, sehingga petani dapat bercocok tanam seefisien mungkin, (3) penggunaan mulsa dari sumberdaya lokal yang tersedia, (4) integrasi ternak dalam sistem usahatani, dan (5) pemanfaatan pupuk kandang sebagai sumber bahan/pupuk organik.

Bukan hal yang mustahil, dengan mengkaji sifat/ karakteristik dan potensi dari lahan kering dengan aplikasi teknologi budidaya yang tepat serta peluang pengembangan lahan kering yang masih cukup luas (22.362 ha atau 74 % dari total pertanian lahan kering) maka justeru produksi pertanian lahan kering akan menjadi daya gerak ekonomi Rote Ndao ke depan

Good luck.

 

* Penulis adalah Dosen Universitas Nusa Lontar – Rote, alumni Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika IPB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s