TINJAUAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN BERBASIS LAHAN KERING DI KABUPATEN ROTE NDAO*

Oleh

Ir. Nur Aini, M.Si.**

Abstract

Massive increases in almost all crops Rote Ndao in 2011 should be observed for the development of dryland agriculture based. The increase is partly supported by 49,068 people or 83.51% of the total workforce. The percentage increase in the production of the first is at 364% corn or 9353.6 tons and second in rice is 358% or 52,592.4 tons. Percentage increase in area harvested first and the second largest in rice and sorghum, each are 183% and 157%. Productivity of rice, groundnut and sorghum are 4.2; 3.2; 2.6 tons per ha. Crops that have great potential for development in dryland sorghum because it is 30,157.90 ha of dry land, only used 26% or an area of ​​7,795 ha. With sorghum growing conditions: temperature optimum 23-30 °C, relative humidity 20-40%, soil temperature          ± 25 °C, rainfall 375-425 mm / yr, pH 5.0 to 7.5 . Advantages of sorghum (Sorghum bicolor L.) is agroecological wide adaptability, drought tolerance, high production, need less input and more resistant to pests and diseases is comperated other crops. In addition, sorghum has a high nutrient content, so it is best used as a source of food and animal feed alternatives. Water demand for sorghum is 1/8 of the amount of water needed rice. Another advantage, sorghum can be planted with ratooning system.

Keywords: Productivity, Food Crops, Dryland

 

 

PENDAHULUAN

Sama halnya dengan daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur.  Kekeringan bukan hal baru bagi masyarakat Rote Ndao yaitu musim hujan yang lebih pendek dari musim kemarau.  Menurut Data Statistik Daerah Rote Ndao tahun 2012 bahwa suhu udara rata-rata di Rote Ndao berkisar antara 17- 33,40C, kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 67 – 89 %  dan jumlah hari hujan sebanyak 127 hari pada tahun 2011 atau hanya 37%.   Curah hujan meningkat 19% dibanding tahun 2010, namun hari hujan tidak sebanyak tahun 2010. Artinya hari hujan menjadi lebih sedikit (Aninomous, 2012).

Meski kekeringan tetap terjadi, hal menarik justeru pada tahun 2011 terjadi peningkatan besar-besaran hasil pertanian di Rote Ndao dari tahun sebelumnya..  Hal ini terlihat dari peningkatan produksi di hampir seluruh komoditi tanaman pangan,  kecuali komoditi kacang hijau dan sorghum.  

Produksi pertanian ini tidak lepas dari banyak faktor, antar lain ditunjang oleh tenaga kerja yang bergerak di bidang pertanian.  Tenaga kerja yang disebut juga dengan angkatan kerja di Rote Ndao pada tahun 2011 mencapai 73,95 % atau 58.757 jiwa dan didominasi oleh penduduk laki-laki dan itu banyak terserap di sektor pertanian yaitu mencapai 83,51% atau 49.068 jiwa.  Tenaga kerja inilah yang merupakan salah satu roda penggerak peningkatan produksi pertanian Rode Ndao.

PRODUKSI TANAMAN PANGAN

Peningkatan produksi tanaman pangan terbesar pada tahun 2011 terdapat pada komoditi jagung yang naik hampir 5 kali dibanding tahun 2010, yaitu dari 2.016 ton di tahun 2010 menjadi 9.353,6 ton di tahun 2011 atau 364%.  Selanjutnya komoditi padi yang juga naik hampir 5 kali dibanding tahun 2010, yaitu dari 11.492 ton menjadi 52.592,4 ton atau 358%.

Peningkatan produksi tanaman pangan terbesar lainnya di Rote Ndao berturut-turut terdapat pada komoditi ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah.  Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.   

Tabel 1.  Produksi Tanaman Pangan di Rote Ndao 2009 – 2011

Komoditas

Produksi (ton)

% Penambahan

2009

2010

2011

Padi

51.583,2

11.492,0

 52.592,4

358

Jagung

6.974,0

2.016,0

 9.353,6

364

Kacang tanah

1.689,9

438,0

855,8

95

Kacang hijau

172,2

145,0

60,0

-59

Sorghum

84,4

98,0

62,6

-36

Ubi kayu

1.910,0

850,0

2.488,0

193

Ubi jalar

1.714,0

180,0

360,0

100

Sumber:  Statistik Daerah Kabupaten Rote Ndao 2012

 

LUAS PANEN TANAMAN PANGAN

Produksi tanaman tidak terlepas dari luas panen.  Peningkatan juga terjadi pada luas panen tanaman pangan, dengan peningkatan terbesar terdapat pada luas panen padi yang naik hampir 3 kali dibanding tahun 2010, yaitu dari 4.420 ha menjadi 12.522 ha.   Prosentase peningkatannya sebesar 183% yang tersebar di 8 kecamatan.  Belum ada informasi apakah prosentase penambahan luas panen padi tersebut berasal dari penambahan areal persawah baru atau penanaman kembali pada sawah-sawah yang sempat tidak digarap sebelumnya. 

Peningkatan luas panen kedua terbesar adalah pada tanaman sorghum.  Peningkatan luas panen hampir tiga kali lipat pada tahun 2011 dari tahun 2010 yaitu 122 ha menjadi 313 ha.  Prosentase peningkatannya sebesar 157%. 

 

Tabel 2. Luas Panen Tanaman Pangan di Rote Ndao 2009 – 2011

Komoditas

Luas Panen (ha)

% Penambahan

2009

2010

2011

Padi

11365

4420

12522

183

Jagung

3486

1666

2923

75

Kacang tanah

392

219

329

50

Kacang hijau

214

182

75

-59

Sorghum

70

122

313

157

Ubi kayu

239

165

311

88

Ubi jalar

88

45

60

33

Sumber:  Statistik Daerah Kabupaten Rote Ndao 2012

 

Peningkatan luas panen hampir tiga kali lipat pada tanaman sorghum menjadi hal ini menarik, mengingat sorghum merupakan tanaman yang dapat dijadikan salah satu alternatif tanaman yang dapat ditanaman di lahan-lahan kering di Rote Ndao.  Bahkan di beberapa daerah, antara lain di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, telah mengembangkan budidaya tanaman sorgum (Sorghum bicolor L) yang dipadukan dengan usaha peternakan.

Menurut Laimeheriwa (1990), lahan yang cocok untuk pertumbuhan yang optimum untuk pertanaman  sorgum (Sorghum bicolor L.) adalah suhu optimum 23° 30° C, kelembaban relatif 20 – 40%, suhu tanah ± 25° C, ketinggian ≤ 800 m dpl, curah hujan 375 – 425 mm/th,  pH 5,0 – 7,5.

Menurut Sofyadi (2012), sorgum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman serealia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya  pada daerah-daerah marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorgum (Sorghum bicolor L.) terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan   pangan maupun  pakan  ternak  alternatif.

 

PRODUKTIVITAS TANAMAN PANGAN ROTE NDAO

Produktifitas sorghum di Rote Ndao menunjukkan angka yang berfluktuatif dari tahun 2009 sampai 2011.  Produktivitas sorghum masih lebih tinggi dari jagung dan komoditas lainnya, namun lebih rendah dari padi.  Produktifitas sorghum tertinggi pada tahun 2009 yaitu mencapai 4,31 ton/ha. 

Produktifitas tertinggi kedua pada tahun 2011 adalah kacang tanah yaitu 3,2 ton per ha.  Belum ada informasi detail tentang varian kacang tanah yang dibudidayakan di Rote Ndao.  Namun menarik, bila kacang tanah yang dibudidayakan adalah varian yang memiliki harga ekonomis yang tinggi yaitu varian lokal. 

Kacang tanah varian lokal memiliki beberapa keunggulan.  Keunggulan tersebut antara lain memiliki daya adaptasi yang lebih luas terhadap kekeringan, sehingga dengan tipe iklim semi arid di Rote ndao, maka pengembangan budidaya kacang tanah di Rote Ndao ke depan menjadi salah satu alternatif yang prospektif, selain luas panen kacang tanah yang baru 329 ha pada tahun 2011, maka masih terbuka lahan untuk budidaya kacang tanah.

 

Tabel 3.  Produktivitas Tanaman Pangan Rote Ndao 2009 – 2011

Komoditas

Ton/ha

2009

2010

2011

Padi

4.54

2.60

4.20

Jagung

0.07

0.14

0.06

Kacang tanah

2.00

1.21

3.20

Kacang hijau

0.06

0.11

0.04

Sorghum

4.31

2.00

2.60

Ubi kayu

0.13

0.42

0.09

Ubi jalar

0.80

0.80

0.80

Sumber:  Statistik Daerah Kabupaten Rote Ndao 2012

 

 

 

SISTEM PERTANIAN DI ROTE NDAO

Secara umum sistem pertanian di Rote Ndao, khususnya yang menyangkut budidaya pertanian tanaman pangan dapat dikelompokkan ke dalam dua yaitu pertanian tanah sawah dan pertanian lahan kering.  Pertanian tanah sawah menurut jenis pengairannya dibedakan atas (1) irigasi teknis, (2) irigasi setengah teknis, (3) irigasi sederhana, (4) irigasi desa/non PU, dan (5) tadah hujan. Sedangkan pertanian lahan kering dibedakan atas (1) pekarangan, (2) tegal/kebun, (3) ladang/huma, dan (4) padang rumput.

Pertanian lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usaha tani bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air dan tidak tergenang air secara tetap.

Ditinjau dari sifat/ karakteristik lahan kering, sangat diperlukan beberapa tindakan untuk menanggulangi faktor pembatas yang menjadi kendala dalam pengembangannya.  Beberapa pola pemberian air tanaman yang dilakukan masyarakat Rote Ndao dalam kaitannya dengan faktor pembatas berbasis lahan  kering yaitu sebagian besar mengandalkan air tadah hujan untuk mengairi lahan pertaniannya, sebagian lagi diairi dari embung-embung sebagai tempat penampungan air di saat musim hujan dan sebagian kecil diairi dari mata air atau sumur-sumur yang sengaja digali.

Secara alami, kesuburan tanah yang mengalami kekeringan memiliki derajat kesuburan yang tergolong rendah. Namun, penilaian produktivitas suatu lahan bukan hanya berdasarkan kesuburan alami (natural fertility), tetapi juga respons tanah dan tanaman terhadap aplikasi teknologi pengelolaan lahan yang diterapkan. Melalui perbaikan teknologi pengelolaan lahan, produktivitas suatu lahan dapat ditingkatkan

.

APLIKASI SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING

Pertanian lahan kering di Rote Ndao ada seluas 30.157,90 ha dan baru dimanfaatkan 26% atau seluas 7.795 ha.  Berbagai alternatif pilihan pendayagunaan lahan kering, diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan. Selain karena memang lahan tersedia cukup luas, sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga memungkinkan peluang dalam pengembangannya.

Pendayagunaan lahan kering dapat diartikan sebagai upaya dalam mengurangi faktor pembatas lahan dalam berproduksi.  Faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan berbagai masukan dan atau biaya yang harus dibelanjakan seperti  Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di lahan kering tidak akan memberikan keuntungan.

Untuk meningkatkan produktivitas lahan kering, beberapa aplikasi teknologi sederhana yang dapat dikembangkan adalah (1) penataan lahan sesuai dengan kearifan lokal serta menentukan garis kontur disusun mengikuti garis kontur/memotong lereng, sehingga efektivitas dalam menekan erosi, (2) pengidentifikasian sumber-sumber air yang potensial dan sistem pengairan yang tepat untuk dapat mengairi lahan, sehingga petani dapat bercocok tanam seefisien mungkin, (3) penggunaan mulsa dari sumberdaya lokal yang tersedia, (4) integrasi ternak dalam sistem usahatani, dan (5) pemanfaatan pupuk kandang sebagai sumber bahan/pupuk organik. 

Pengaplikasi teknologi sederhana tersebut sebagian telah dilakukan seperti membuat teras sederhana yang merupakan suatu bentuk kearifan lokal dari tindakan konservasi yang cukup baik dan efektif.  Namun sebagian lagi masih perlu mengalami ketertinggalan pengelolaan pertanian di  lahan kering yang hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik, infrastruktur, kelembagaan usahatani maupun akses informasi untuk petani yang kurang mendapat perhatian.  Untuk mencoba mengkaji peluang dengan melihat sifat/ karakteristik dan potensi dari lahan kering dalam pengembangannya untuk pertanian tanaman pangan, maka dapat dibuat dengan sistem pertanian berkelanjutan dalam pemanfaatan lahan lahan kering untuk menanam tananaman sorghum.

 

TINJAUAN APLIKASI TANAMAN SORHUM DI LAHAN KERING

Banyak upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering, di antaranya dengan mencari tanaman yang cocok beradaptasi misalnya sorgum yang sangat tahan terhadap kondisi kekeringan.  Namun budidaya dan pengembangannya masih sangat terbatas.

Sorgum memiliki potensi sangat besar dan prospektif untuk dikembangkan sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas lahan kering karena sorgum memiliki daya adaptasi yang luas dan memerlukan jumlah air yang relatif sedikit dalam pertumbuhannya. Sorgum sangat tahan kondisi lahan kering karena domestikasinya memang berasal dari Afrika yang beriklim kering (Toure et al., 2004; Borrell et al., 2005).

Secara fisiologis, permukaan daun yang mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran yang dalam, cenderung membuat tanaman sorgum efisien dalam absorpsi dan pemanfaatan air. Hasil studi menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg akumulasi bahan kering sorgum hanya memerlukan 332 kg air, sedangkan jagung, memerlukan lebih banyak air yaitu sebanyak 368 kg air (House, 1995). Dibandingkan padi, kebutuhan air untuk sorgum adalah 1/8 dari jumlah air yang dibutuhkan padi. Keunggulan lain, sorgum dapat ditanam dengan sistem ratun (ratooning system) yang memerlukan hanya sedikit tenaga kerja, karena tanaman dapat dipanen dua sampai tiga kali untuk sekali tanam.

Sorgum merupakan tanaman pilihan paling sesuai dalam upaya peningkatan produktivitas lahan-lahan kering marginal, lahan kosong atau lahan non-produktif lainnya. Dengan menanam sorgum maka produktifitas lahan akan meningkat dan juga mendukung upaya pengembangan pertanian berkelanjutan dan peningkatan produksi pangan Rote Ndao.

Tanaman tersebut masih belum banyak dikenal oleh masyarakat luas sehingga budidaya dan pengembangannya masih sangat terbatas. Melalui penelitian dan pemuliaan tanaman diharapkan sorghum dapat ditingkatkan produktivitas dan kualitasnya untuk mendukung perekonomian Rote Ndao.

 

KESIMPULAN

Peningkatan besar-besaran di hampir semua tanaman pangan Rote Ndao pada tahun 2011 patut dicermati bagi pengembangan pertanian berbasis lahan kering.  Peningkatan ini antara lain ditunjang oleh 49.068 jiwa atau 83,51% dari total tenaga kerja.  Beberapa aplikasi teknologi sederhana yang dapat dikembangkan adalah (1) penataan lahan sesuai dengan kearifan lokal serta menentukan garis kontur disusun mengikuti garis kontur/memotong lereng, sehingga efektivitas dalam menekan erosi, (2) pengidentifikasian sumber-sumber air yang potensial dan sistem pengairan yang tepat untuk dapat mengairi lahan, sehingga petani dapat bercocok tanam seefisien mungkin (3) pemanfaatan arang yang berasal dari bahan organik sulit lapuk (berasal dari limbah pakan atau limbah tanaman semusim) yang dapat meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan memperbaiki kondisi fisik media tanam, (4) penggunaan mulsa dari sumberdaya lokal yang tersedia, (5) integrasi ternak dalam sistem usahatani, dan (6) pemanfaatan pupuk kandang sebagai sumber bahan/pupuk organik.

Dengan syarat tumbuh sorghum: suhu optimum 23° 30° C, kelembaban relatif 20 – 40%, suhu tanah ± 25° C, ketinggian ≤ 800 m dpl, curah hujan 375 – 425 mm/th,  pH 5,0 – 7,5.  Keunggulan sorgum (Sorghum bicolor L.) terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan   pangan maupun  pakan  ternak  alternatif.  Kebutuhan air untuk sorgum adalah 1/8 dari jumlah air yang dibutuhkan padi. Keunggulan lain, sorgum dapat ditanam dengan sistem ratun (ratooning system), maka sorghun merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat dikembangkan di lahan kering Rote Ndao.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aninomous, 2012.  Statistik Daerah Kabupaten Rote Ndao 2012.  Badan Pusat Statistik Kabupaten Rote Ndao.

Anonomous.  2012.  Tanaman Sorgum Dipadukan dengan Usaha Peternakan.  Antara.News.  

Borrell, A.K. dan Hammer, G. (2005). The physiology of “stay-green” in sorghum. Hermitage Research Station, University of Quensland, Brisbande. 

House, L. R. (1995). A Guide to Sorghum Breeding. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics. Andhra Pradesh, India. 238p.

Laimeheriwa, Jantje.  1990.  Teknologi Budidaya Sorghum.  Balai Informasi Pertanian Propinsi Irian Jaya

Sofyadi, Edy.  2011.  Aspek Budidaya, Prospek, Kendala, dan Solusi Pengembangan Sorgum di Indonesia.

Toure, A. dan Weltzien, E. (2004). Guinea sorghum hybrids: Bringing the benefits of hybrid technology to a staple crop of sub-Saharan Africa. IER-ICRISAT.

*Proseding Seminar “Ekonomi Rote Ndao dari Sudut Pandang Agroteknologi Berbasis Pertanian Lahan Kering” di Universitas Nusa Lontar”Gambar.

**Staff Pengajar Agroteknologi dan Biologi MIPA di Universitas Nusa Lontar

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s